Kamis, 29 Juli 2010

Gusti Ora Sare...Allah Tidak Tidur

Berapa usia bumi ini?. Sebagian teolog akan menjawab tanpa ragu “ 6000 tahun !”. Sedangkan para paleontog akan menjawab “ 4.500.000.000 tahun !”. Ada yang janggal?, wah ini sih bukan janggal lagi, tapi ini sudah sebuah paradok, nggak nyambung. Lalu kira-kira siapa yang benar?, teolog yang mendapat pengetahuan melalui sumber-sumber pewahyuan, oracle ataupun sekedar wangsit?. Ataukah para paleontolog yang mendapat pengertian dengan jalan penelitian dengan mengemukakan bukti-empiris yang masih saja lemah konsistensinya ?.

Bingung ?, ya sudah kita ganti saja tebak-tebakannya. Apa yang yang pertama diciptakan Tuhan di alam semasta ini ?. Ada yang bilang “ether” sebagai cikal bakal materi. Tanpa bermaksud lancang, saya kira yang pertama kali dicipta adalah ”matahari”. Ah , ngawur, tapi ya nggak masalah, ini kan tulisan fiktif!!. Wong, kitab suci sendiri yang bilang bahwa ”alam dicipta dalam enam hari”. Lalu bagaimana menghitung jumlah hari tanpa mendasarkannya dengan timbul dan tenggelamnya matahari ?. Apa kata ”hari” itu hanyalah sebuah kiasan untuk suatu ”fase” penciptaan saja?, bisa jadi. Lalu berapa durasi waktu tiap-tiap fase itu ?...sekali lagi tetap tak ( atau belum ) terjawab.

Itu baru dua pertanyaan ”sepele” tantang ciptaan-ciptaan Tuhan. Dan ternyata itu sudah cukup untuk meledakkan kepala. Tapi ada saja orang yang cumantaka, lancang bertanya tentang eksistensi dan asal-usul Tuhan. Bahkan ada yang saking nekatnya sampai mengarang buku dengan judul The History of God, Sejarah Tuhan. Saya malah mikir, terus bagaimana cara sang penulis itu melakukan riset sehingga mendapat bukti-bukti yang paripurna untuk mendukung gagasannya. Apakah dia lalu bertanya kepada tetangga-tetangga Tuhan?. Apa lalu dia mendapat family tree, pohon silsilah tentang leluhur-leluhur Tuhan ?. Naudzubillah……

Yang lain sok tahu tentang iradah, kekuasaan Tuhan. Mereka menyamakan free will, kebebasan berkehendak Tuhan dengan kebebasan berkehendak insani. Mereka pikir Tuhan mengatur alam ini dengan sebuah dalil ” suka-suka Dia”. Seperti anak-anak memainkan mainan, atau seperti dalang memainkan anak wayang. Apa mereka itu lupa, bahwa kebebasan berkehendak-Nya tentu dilandasi ke-Maha Bijaksanaan dan ke-Maha Luasan ilmu-Nya. Sedangkan kebebasan berkehendak manusia hanya dilandasi nafsu, kecerobohan dan kesempitan nalar mereka. Ah, manusia, ……bagaimana dari species macam ini bisa menjelma pribadi-pribadi unggul, para nabi dan orang suci yang integritas spiritualnya melebihi para malaikat sekalipun.

Tapi dunia ini tidak juga akan kekurangan manusia-manusia yang mengenal dan memahami Tuhan dengan kebeningan hati. Mereka mengenal Tuhan tanpa harus membaca bukunya Karren Amstrong ( - The History of God ). Tuhan mereka kenali atas dasar ayat-ayat kauniyah-Nya. Alam semesta yang tergelar di hadapan mereka dengan segala pesona dan misterinya. Dan alam yang mereka pahami berbeda dengan apa yang di pelajari oleh para ilmuwan yang telah memecah-mecah alam secara parsial atas nama spesialisasi sains. Mereka menerima alam sebagai etintas universal yang tak terpisahkan. Dimana setiap sisi dari yang kasat mata sampai yang tak terindera saling berhubungan dalam keteraturan masing-masing. Alam yang digerakkan dan diatur dengan sebuah tujuan.

Orang-orang seperti ini mengakui kekuasaan Tuhan tanpa harus mengetahui besarnya energi yang ditimbulkan dalam sebuah reaksi fusi atau pengaruh gravitasi intra bintang yang menyebabkan bintang-bintang dan benda langit tidak bertabrakan saat ber-thawaf pada orbit masing-masing. Mereka cukup melihat benih-benih padi yang mereka semi dalam 21 hari telah menumbuhkan tunas-tunas yang kelak mereka tanam dalam petak-petak sawah mereka yang kebanyakan tidak begitu luas. Mereka begitu mensyukuri jika 120 hari kemudian padi yang mereka tanam telah menumbuhkan bulir-bulir baru yang penuh padat berisi. Itulah kekuasaan Tuhan bagi mereka. Kekuasaan Tuhan yang menghidupi.

Mereka itu, petani-petani penggarap, pedagang kecil, buruh dan mungkin juga seniman-seniman jalanan. Mereka itu yang biasa kita kenal sebagai wong cilik, rakyat kecil. Ada-ada saja orang-orang itu bikin istilah. Ya sudah jelas dong , kalau tidak ”kecil” ya tidak bakalan jadi ”rakyat” mereka itu.

Tak usah malu mengakui mereka sebagai hamba-hamba yang paling dekat dengan Tuhan. Bagaimana tidak, wong sembahyang dan dzikir mereka itu benar-benar tidak kenal waktu. Tidak terbatas lima kali sehari, tapi bisa 24 jam full time. Dan itu beralasan juga, kalau tidak kepada Gusti Allah sendiri terus kepada siapa lagi mereka menggantungkan harapan. Wong satu-satunya yang mereka miliki mungkin ”tinggal” Tuhan semata. Yang lain ?, jangan tanya, semuanya sudah dirampok oleh sistem kapitalisme, postmodernisme dan neokolonialisme.

Demi menyelami kehidupan wong cilik ( padahal saya sendiri juga wong cilik, tapi wong cilik yang sok sastrais ) saya mateg aji Halimun dan menyambangi pasangan petani di lembah Sindoro yang sedang rolasan, rehat menikmati santap siang di gubug kecil mereka. Pak Karyotani dan istrinya sedang bergunjing tentang kahanan, keadaan yang tidak menentu akhir-akhir ini. Saya nguping dari balik koangan, payung lebar mereka yang terbuat dari slumpring bambu itu.:

>>><<<

” kok alam ini kayaknya semakin nggak bersahabat ya Bune?, sekarang dia itu jadi agak kemayu, susah di tebak dan semaunya sendiri. Yang harusnya hujan malah panas. Giliran jatahnya musim panas malah nggejeh, hujan terus...”

” alamnya sudah tua kali Pakne....”

” kamu itu ya ada-ada saja, wong alam kok disamakan sama manusia..mengenal umur segala..”

” lha sampeyan itu ya aneh, masak tanya masalah perubahan alam kok sama aku...wong Pakne ya tahu...aku ini nggak makan bangku sekolahan, ngertinya cuma masalah dapur, sumur dan........”

” dan apa Bune........ ? ”

” dan balik kemasalah dapur dan sumur lagi to yo...anggepmu itu apa...”

” terus gimana nasib wong cilik, para tani itu, kalau musim jadi tidak menentu seperti ini ?....”

” ya jangan dipikir terlalu dalam begitu Pakne, malah mumet, pusing nanti sampeyan.Gusti Allah ora sare, serahkan saja pada Dia. Sudah itu didahar¸ dimakan sayur lodehnya. Tak bikinin sambel trasi bakar kesukaanmu ini...kemarin aku diolehi-olehi trasi sama mBakyu Pariyem yang baru pulang menengok besannya di Cilacap...”

” wong yang salah merusak alam itu cuma segelintir orang je...... kok yang menanggung harus semuanya lho... coba Bune sambel trasinya itu...lomboknya kamu bakar juga to?, kurang sedep kalau nggak sekalian dibakar........”

” ini-ini, mana piringnya... jangan-jangan ini teguran dari Gusti Allah ya Pakne,? Orang-orang sekarang ini kan tambah serakah, tanpa mau etung, berhitung jika alam itu bisa duka, marah ...”

” lha iya, tapi yang layak didukani, dimarahi sama alam itu kan seharusnya orang-orang yang merusak itu to?. Yang membabat hutan, yang ngeduk menambang batu dan pasir di kali dan di ereng-ereng, tebing tanpa ampun itu..........wah sedep tenan sambel trasimu iki, coba kalau ada wader goreng...”

” ya ambil hikmahnya saja...idep-idep, hitung-hitung prihatin. Orang Jawa itu kan mesti gentur, rajin bertapa to. siapa tahu dengan dibarengi prihatin seperti ini Gusti Allah berkenan meluluskan ujian ini...”

” kok ya Maha Kreatif bener Dia itu, menguji umat-Nya dengan bermacam cara ..”

” huss..jangan sembrana, sembarangan ...tapi toh kita mesti yakin Pak, bahwa Gusti Allah ora sare, Dia selalu terjaga dan memberikan segala yang dibutuhkan kawula, hamba-Nya. Kita saja mungkin yang salah tanggap dan salah tampa, pikir kita ”keingginan” itulah ”kebutuhan” kita. Sedang menurut ilmu-Nya boleh jadi yang kita inginkan bukanlah yang kita butuhkan. Mata manusia itu kan sering sisip ing pandulu , salah dalam melihat persoalan to Pakne ?.”

” aku ini heran Bu ?, kok kamu itu kadang-kadang bisa jadi ngintelek juga lho ”

” alaah ngintelek apane,.... sudah ayo, itu dilanjutkan..kalau ngeciwis, ngomong terus kapan selesainya ini. Siapa tahu besok hujan, minggu depan kan sudah bisa mulai tandur, ditanam benih-benih itu..!!”

” mengko disik, sebentar to, tak habisin dulu ini...kamu itu senengnya kesusu, terburu-buru. Orang Jawa itu mesti alon waton kelakon, biar lambat asal ”nikmat” ....”

Setelah menyelesaikan makanannya yang ditutup dengan doa paling jujur dan ekspresif ”HHHaaaiikk” bersendawa , pak Karyotani kembali masuk ke ler-leran, lautan lumpur dengan membawa cangkulnya. Bu Karyotani mengikuti sesaat setelah membereskan bakulnya dengan membawakan caping yang agaknya dilupakan oleh sang suami :

” ini lho diagem, dipakai Pakne, tambah keling nanti sampeyan..”

Dan dimulailah kerja mereka. Waktu istirahat yang tidak lebih dari setengah jam itu telah mengembalikan tenaga dan semangat mereka. Pak Karyotani sibuk membuat galengan, pematang. Istrinya mencoba menguatkan pagar bambu yang mengelilingi persemaian benih padi itu dengan bilahan bambu yang baru. Sekali-kali mereka tertawa bareng, bercanda dan saling ledek. Ah, itulah bumbu rumah tangga yang membuat mereka semakin rekat saja.

Sawah mereka sebenarnya tidak benar-benar kering karena letaknya yang persis di sebelah kali Progo masih bisa terairi dengan mengalirkan air kali itu dengan pipa bambu. Tapi tetap saja mereka kuwatir, hujan yang tak kunjung turun sampai akhir November 2009 membuat mereka mangu-mangu, ragu untuk mulai menanam. Benih padi yang sudah berumur 11 hari itulah yang memaksa mereka untuk segera mulai menanamnya. Lagi-lagi mereka harus berjudi dengan alam. Mungkin mereka menang, bisa juga mereka kalah. Tapi mereka tetap percaya, bahwa Gusti Allah ora sare, di surga sana Dia pasti pirsa, melihat keringat dan usaha mereka.

Saya mengikuti mereka sampai kerumah, masih dengan aji Halimun saya agar mereka tidak melihat ( Tapi karena ini hanya sekedar cerita fiktif maka tiba-tiba saya memasuki dimensi paralel dan dengan menafikan waktu saya telah berada di pertengahan bulan Juni 2010 ). Mereka tinggal berdua. Anak laki-laki semata wayang mereka kini mbebara, merantau ke Jakarta setelah lulus dari sebuah STM pertanian di Temanggung.

Kira-kira jam setengah tujuh, pak Karyotani iseng menyalakan TV hitam putih merk Intel-Nenggala yang ada gambar Baladewanya itu. Dia memilih siaran berita disalah satu TV suasta. Betapa terkejutnya Pak Karyotani ketika dalam salah satu segmen mbak reporter yang ayu itu membacakan berita tentang rencana pemerintah yang akan menaikan Tarif Dasar Listrik. Dia langsung desperate, kalut dan memanggil istrinya yang waktu itu sedang menyiapkan makan malam :

” Aduh iki piye, gimana ini Bune ?...Bune...”

Bu Karyotani datang tergopoh-gopoh, tangan kirinya masih memegang piring basah, sedang tangan kanannya membawa serbet biru yang rupanya ( kalau tidak salah ) terbuat dari potongan handuk lama.

” ada apa sih Pakne, bikin kaget saja ...apa..apa ? ”

” itu berita itu lho...coba-coba ! “

“ apa sih, ada orang mati dipotong-potong lagi ?, apa ada perawan yang diperkosa sama paklik-nya ? .... ah, males aku melihat berita kayak gitu...”

“ bukan itu Bune, ini lebih gawat lagi. Lihat itu pemrentah mau menaikan listrik lagi. Waduh mana nyampai 10 persen ... ujung-ujungnya kan harga kebutuhan pokok naik lagi kan ini ?, kita kan belum beli pupuk je....”

Bu Karyotani yang segera mencium efek domino dari rencana kenaikan lisrtik itu menjadi tercenung. Mereka berdua sementara diam, menyimak penjelasan dari Tim menteri EKUIN yang tentu saja tak satupun yang mereka kenal. Para menteri itu bilang bahwa kenaikan listrik kali ini dilakukan dengan ”terpaksa” demi menyelamatkan anggaran yang telah disabotase oleh beban subsidi yang tak lagi tertanggungkan. Mereka juga meminta masyarakat tidak panik dan memastikan bahwa harga kebutuhan pokok tidak akan melonjak karena kenaikan ini. Tidak lupa bapak-ibu menteri itu minta partisipasi seluruh rakyat demi mengendalikan keadaan.

” Pakne, kok aku ini jadi bingung sama itung-itungannya orang-orang pintar di Jakarta itu. Memang menurut ngelmu gunggung-sungsun dan para-gapet yang bagai mana ya Pakne, yang bisa menyatakan kalau kenaikan harga listrik tidak bakal menaikkan harga-harga..."

” jelas itu ngelmu tingkat tinggi Bune, kita nggak bakalan mudeng, ngetungnya saja konon pake kompiyuter yang segede lemari itu ”

” apa ya nggak salah ya?.....dan itu coba dengar Pak!... Kita masih disuruh parsitipasi segala, njur istilah apalagi itu?. Padahal kita sudah di suruh mbayar PAR-SITI-SAPI sama Pak Sosial tiap pertemuan selapanan itu. 500 untuk sawah dan 750 untuk satu ekor sapi. Kok masih nggak cukup ya Pakne. Jan pemerintah itu kersane, maunya macem-macem ?

” yo salahmu sendiri to Bu, kamu dulu milih persiden dengan dasar paling ganteng saja....”

“ terus mau milih yang bagaimana Pak?, wong aku ya nggak kenal sama pak calon-calon itu dulu. Ya sudah tak pilih yang paling nggantheng saja, biar gambarnya pantes dipasang di ruang tamu...”

“ untung anakmu itu sudah lulus ya Bune, kalau belum apa ya bisa kita ngasih sangu tiap pagi buat ongkos bis?... wong subsidi kok ya pakai dicabut segala...... ”

” alaah mbok ya biarin saja Pakne, kita ngrundel sampai pegel juga nggak bakal an didengerin gerundelan kita. Gusti Allah ora sare, tidak dikasih subsidi sama pemrentah ya kita nyuwun, meminta subsidi sama sing Kuwoso, mosok ya nggak dikasih “

“sebentar Bune!! Kamu itu dari tadi ngomong Gusti Allah ora sare-Gusti Allah ora sare terus itu memang benar-benar YAKIN apa cuman ngayem-ayemi, mendinginkan hati to? “

“ waah ya piye ya. Dianggap yakin ya sebenarnya nggak begitu yakin, dibilang nggak yakin ya ... memang nggak yakin sih.......tapi memang ada pilihan lain selain “ yakin” itu Pak? ”


” tapi setidaknya kan ada alasan untuk pernyataan YAKIN-mu itu Bu .?”

” ya itu Pakne, paling tidak dengan pawitan, modal YAKIN itu kita lalu mempunyai pangarep-pangarep, PANGHARAPAN. Itu modalnya Pak..kalau sudah tidak punya pengharapan ya sudah, tumpes, musnah alasan kita untuk terus bertahan hidup. Dan kalau miturut Bu Nyai Norkalimah waktu pengajian Kemis-pon-nan itu, memang Allah itu akan ngudaneni, mengabulkan keinginan kita kalau disertai pengharapan yang tulus kok”

Pak Karyotani benar-benar gedeg-gedeg, kagum mendengar istrinya yang begitu micara, tangkas berolah kata. Seandainya saja Pak Karyotani adalah Zig Ziglar, dia pasti akan segera hampiri istrinya lalu mencium kening istrinya itu sambil berbisik manis ” oh My sugar baby....” . tapi karena dia cuma Pak Karyotani, maka dia cukup bilang :

” kamu hari ini kok jadi ceriwis banget to Bune ”

” wong sampeyan sendiri yang mancing-mancing aku buat ceriwis kok. tapi nggak apa-apa kan Pak sekali-kali ceriwis ?. Cuma didepan suami sendiri saja lho...”

” ya karepmu, terserah to . Tapi Bune, ini seumpama lho. Misalnya saja lalu Gusti Allah berbaik kati memberikan semua yang kau inginkan dan kamu disabda, ditakdirkan jadi orang yang mulya, kaya, apa kamu akan tetap ngrantes, kukuh dalam pengaharapan dan keyakinanmu itu? ”

”oalah Pak..Pak..sampeyan itu lho....yang namanya pengharapan dan keyakinan itu ya tantu saja tetap dan harus ada , cuma mungkin wujudnya menjadi lain. Kalau belum disembadani, dikabulkan, itu namanya PENGHARAPAN. Tapi ketika itu di kabulkan maka pengharapan itu berubah menjasi rasa SUKUR, terima kasih kepada Yang Kuasa.......... ”

Sekarang giliran saya yang terkesima. Oo s..jadi ini inti dari falsafah Gusti ora sare itu, jika ditimbang dalam sudut pandang insani, sebagai objek dari Sang Subjek Sejati. Ya..ya...ya, intinya adalah sebuah metamorfosa kontekstual, empan golek papan. Ada saatnya mengharap, ada saatnya mensyukuri, tergantung dimana posisi kita saat itu.

Ah.........saya tinggalkan Pak Karyotani yang masih tercengang dalam keheranan. ” bisa-bisanya lho”. Saya malah jadi penasaran buat melihat anggota keluarga yang lain. Entah anak macam apa yang bisa dihasilkan oleh pasangan yang begitu luar biasa itu.

Saya menemukan anak itu yang ternyata karyawan sebuah pabrik minuman di daerah Bekasi, Jawa-Barat. Saya segera menginsyafi tampang anak ini yang begitu pas untuk dikatakan sebagai potret umum buruh di Indonesia. Badan kurus, tinggi 165 cm dengan berat mungkin tak lebih dari 53 kg. Dari caranya jalan dapat saya simpulkan jika uang yang terselip di dompetnya tak lebih dari Rp.17.500 (awalnya Rp.20.000, lalu dikurangi angkos bis dan ”sedekah” buat orang ngamen ). Soal wajah lebih baik tidak usah saya ceritakan, nggak baik ngomongin keburukan orang lain.

Tapi yang sangat provokatif adalah buku yang di bawa waktu dia berangkat kerja pagi itu. Edaaaan, Das Kapital,Vol.1 dan seri kedua tetralogi Buru-nya Pramoedya, Anak Semua Bangsa. Saya ikuti dia sampai masuk ruangan kerjanya. Begitu sampai dia langsung menyalakan komputer dan membuka sebuah file yang ternyata berisi sebuah karangan ( entah tentang apa ) yang agaknya belum lengkap. Ah.... suka menulis juga anak ini... Saya mendekat dan coba cari tahu judul karangan itu. Karangan itu berjudul “ Gusti Ora Sare”.

Lho ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar