Kamis, 29 Juli 2010

Djoko Pekik dan Ideologi "celeng"



Orang tidak akan terkejut bila ada seekor kuda, burung langka atau beberapa jenis ikan hias sampai dihargai sebesar Rp. 1.000.000.000. Tapi orang akan tersentak kaget jika mendengar ada seekor celeng yang dihargai sampai Rp.1.000.000.000. Dan begitulah kenyataanya, di Djogja ada “celeng” yang dihargai sebesar itu. Tapi tentu saja itu bukan celeng beneran yang biasanya diburu pak tani gara-gara suka merayah ladang jagung dan palawija mereka. Ini adalah tentang lukisan karya Djoko Pekik yang berjudul “ Berburu Celeng” yang dia lukis di tahun 1998.

Saya juga tidak habis pikir, terus siapa orang bodo yang mau membeli lukisan semahal itu?. Ing atase “cuma’’ lukisan karya pelukis lokal lho. Terus kok ya kurang kerjaan amat eyang Djoko Pekik melukis binatang semacam itu?. Wong kayaknya di bumi ini masih tersedia banyak spesies binatang yang lebih eksotic dan lebih lumrah untuk dijadikan model sebuah lukisan. Tapi ya namanya juga seniman. Kalau nggak aneh dan nyeleneh ya bukan seniman namanya. Atau jangan-jangan memang hanya jenis binatang ini yang masih tersisa di belantara tanah Ngayogyakarta Hadiningrat?. Tapi memangnya masih ada sisa hutan di Djogja ?. Ah, paling-paling ada sedikit di Gunung Kidul, Menoreh atau di lereng Merapi sana. Dan memang yang tersisa dihutan-hutan itu kayaknya hanya tinggal sebangsa monyet dan celeng saja. Tapi toh saya yakin, bukan dengan pertimbangan ini eyang Djoko Pekik itu melukis dengan tema ini. Lha terus apa ?.

Bagi saya terlalu sayang untuk melewatkan sejarah, lakon kehidupan pelukis kelahiran Grobogan, 71 tahun lalu itu. Dan namanya itu lho, kok ya bolehnya provokatif, Djoko Pekik. Djoko berarti pemuda , sedang Pekik berarti tampan. Tentu saja akan terlalu sulit mencari sisa “ketampanan” dia di usianya yang sudah terlanjur uzur. Tapi saya masih bisa melihat sorot matanya yang menyiratkan kewaskitaan.

Lalu menengok kampung kelahirannya di Grobogan, saya langsung teringat komunitas masyarakat Samin yang mendiami daerah itu sampai Pati dan Bojonegoro. Sebuah komunitas yang dibangun oleh sempalan kaum priyayi-prajurit dari kraton Mentaram yang emoh tunduk pada hegemoni kekuasaan feodal dan kolonial. Soal kepercayaan pantheis yang kemudian mereka anut, saya hanya bisa mengulang kredo simbah-simbah dahulu, bahwa agama pada titik tertentu mesti dipandang tak lebih dari ” agemaning ati”, pakaian bagi hati. Hati tanpa agama adalah ”ketelanjangan moral”. Yang jelas mereka adalah tipikal masyarakat yang begitu menjunjung tinggi kejujuran dan kerendahan hati. Kerasnya tanah kapur sisi utara Muria dan lebatnya alas Randu Blatung telah mengajari mereka tentang arti kebersahajaan.

Tak banyak yang saya ketahui tentang kehidupan dia di kampung halamannya. Yang jelas dia sempat sekolah di SR Purwodadi ( tidak lulus ) dan tahu-tahu dia sudah belajar melukis di Akademi Seni Rupa Indonesia, ASRI Djogja (ya Allah, tiga tahun lalu nyaris Kau kirim aku kesana ). Tapi konon bukan di ASRI dia mematangkan kemampuan melukisnya. Justru di sanggar Bumi Tarung dia kemudian menemukan jati-diri melukisnya dengan mengusung mazhab realis-ekspresionis. Ya, Bumi Tarung, yang menurut para punggawanya merupakan othak-athik-mathuk dari kata buruh dan tani. Dari bahasanya saja jelas kita dapat menebak, kemana mereka ini ber-afiliasi pada zaman revulusi di medio 60-an?. Ya...kemanalagi kalau bukan ke Lekra, Lembaga Kebudayaan Rakyat yang sering dianggap sebagai ounderbouw-nya PKI. Dan gara-gara keikutsertaannya di Lekra ini, Djoko Pekik mesti menjadi pesakitan dipenjara Wirogunan, Djogja dari tahun 1965 sampai 1972.

Saya jadi mikir, kenapa ideologi komunis menjadi sebegitu menariknya bagi para seniman, buruh dan petani kala itu?. Entah ini ada kaitannya dengan posisi mereka yang selalu tertindas atau karena sistem propaganda komunis yang berhasil memikat rakyat. Apa yang ditawarkan oleh kaum komunis pada mereka ?. Apresiasi karya komunal, upah yang layak, atau kebijakan land-reform yang lebih adil ?. Lalu bagaimana masyarakat Jawa yang katanya berkepribadian halus itu lalu bisa menerima ideologi sosaialis-komunis-marxist yang cenderung radikal-revolusioaner. Apakah orang Jawa telah kehilangan kehalusannya ?. Apakah ada kesamaan ”tertentu” antara ideologi Jawa dengan ideologi komunis ?.

Tempo hari saya rampung membaca History of Western Philosopy karya Bertrand Russel. Satu hal yang menarik ketika Bertrand Russel membandingkan hubungan antara nilai-nilai komunis yang dikembangkan Marx dengan nilai-nila Kristen yang dikembangkan St. Agustinus. Karena saya orang Jawa dan yang sedang saya bicarakan juga soal orang Jawa, maka saya lalu mencoba membuat perbandingan antara hubungan ideologi Kejawen dengan nilai-nilai komunis kala itu. Saya tahu ini bukan penemuan orisinil, tapi ya biarin saja tho. Wong saya juga cuma ngawur. Inilah versi saya:

Ratu adil----------------------
---------------------------dialektika Marxist
Satriya Piningit------------------------------------------Karl Marx
Keraton---------------------------------------------------Partai Komunis
Pribadi Kinasih------------------------------------------kaum Proletar
Centhini, Wedhatama-----------------------------------Das Capital, Comunist Manifest
Asmaradana, Dandang-Gendhis----------------------Internationale, Nasakom Bersatu
Bharatayudha-------------------------------------------Revolusi
Swarga---------------------------------------------------persemakmuran komunis

Tentu saja analisa saya itu tidak mencakup orang Jawa secara umum. Masih banyak golongan Jawa lain yang tentunya memilih orientasi politik sesuai selera mereka sendiri-sendiri. Yang golongan priyayi dan ningrat memilih ikut PNI. Kaum santri dan pesisiran tentu saja memilih Masyumi . Terus yang ikut PKI ?. Ya...rakyat-rakyat kecil itu. Mereka itu petani yang tanahnya hanya ada diangan-angan mereka. Buruh yang gajinya hanya cukup buat ”sekedar” hidup saja. Nelayan yang bukannya tidak punya ”laut”, tapi tidak punya ”perahu". Dan akhirnya tentu saja kaum intelektual dan seniman yang memiliki rasa dan kepekaan sosial yang tinggi. Contohnya ?. Banyak dong, salah satunya, ya eyang Djoko Pekik yang sedang jadi tokoh kita ini.

Trilogi lukisannya yaitu Susu Raja Celeng ( 1996 ), Berburu Celeng ( 1998 ) dan Tanda Bunga & Telegram Duka Cita ( 2000 ) dianggap ”puncak” dari lelaku seninya. Ketiganya mungkin sebuah usaha ” menyimpulkan” semua ideologi, kepercayaan dan perjalanan hidupnya. Meskipun karya-karya sebelum triloginya justru dipandang oleh sebagian kritikus sebaga karya yang lebih kreatif dan mempunyai gagasan ”cogito” yang lebih kuat, tapi lewat triloginya itu kemudian dia benar-benar mendapat kamulyan. Ya, kamulyan, penghargaan , baik secara intelektual maupun finansial.

Tapi saya lalu bertannya lagi. Kenapa ya mesti celeng lho?. Apa jangan-jangan celengnya Djoko Pekik ini sebenarnya adalah sebuah simbol belaka?. Kalau begitu dia menyombolkan apa?. Atau jangan-jangan pertanyannya mesti diganti dengan , itu menyimbolkan siapa?.

Saya kemudian mengamati detail lukisan Berburu Celeng ( 1998) itu. Disana digambarkan seekor celeng yang diikat dengan sebuah pikulan yang diarak masa. Di sekelilingnya saya lihat euforia masa yang tengah berang dengan aneka penampilan dan ekspresi. Semuanya seakan meneriaki, menghujat sang celeng. Sang celeng kelihatan begitu tak berdaya dan pupus. Entahlah mungkin saat itu sang celeng telah mati. Dari situ saya coba mengingat, celeng apa yang diburu dan dihujat di tahun 1998?.

Setalah saya pikir-pikir...Ya ampun.....celeng yang itukah?. Waduh, kalau begitu itu bukan sak baene, bukan sembarang celeng. Tapi itu adalah jenis yang sangat besar, sakti dan ampuh. Celeng yang dengan satu mantra...” ya tho”....akan mampu membunuh semua aktifis, pejuang pro-demokrasi, pembela syariat agama dan seniman idealis yang dianggap “kiri”. Dia adalah makhluk yang telah membasahi culanya dengan darah kaum Muslim di Talangsari-Lampung dan Tanjung Priok. Dia adalah spesies super yang sudah merampok tanah leluhur saya di Gajah Mungkur-Wonogiri sana.

Tapi ngomong-ngomong, ah, bukan juga barangkali. Itu mungkin hanya buah pikiran saya saja yang terlalu berprasangka. Lagian mana ada sih makhluk seperti itu di negeri ini. Ini adalah Indonesia, dimana seluruh warganya selalu rukun dan bertepaselira karena dalam hidupnya selalu berpedoman dengan moral luhur Pancasila. Pejabat dan pemimpinnya juga tidak mungkin sekejam itu. Mereka semua adalah orang-orang pilihan dan terpuji, bahkan sudah lulus penataran P4 semua.

Jadi kemudian saya mengambil kesimpulan, bahwa sang celeng itu mungkin tak lebih sekedar simbologi mental saja. Mental dan moral celeng, “sebuah ideologi celeng”. Itulah ideologi perusak (siapapun dia), tapi merusaknya itu lho, kok ya pilih-pilih juga. Dan yang dirusak kok ya lagi-lagi rakyat kecil dan kaum marjinal. Ujung-ujungnya sepeti celeng beneran saja, maunya cuma ngrusak tanamannya petani kecil macam singkong dan jagung saja. Tidak pernah sekalipun merusak tanaman perkebunan dengan kapita modal besar punya konglomerat-konglomerat itu. Walaupun tidak lucu juga kalau ada binatang macam itu iseng makan karet dan pinus. Tapi tebu dan kakao boleh juga kan?. Atau jangan-jangan para konglomerat itu teman-temannya sang celeng ?. Ah, saya tak boleh berprasangka buruk. Lagian ini kan lagi ngomongin soal lukisan.

Tapi bicara soal ideologi celeng agaknya saya tidak sendiri. Pertengahan 2007 lalu Pemred Tempo, Goenawan Moehammad merayakan ulang tahun. Anehnya acara ini diadakan di kediaman Djoko Pekik. Ada semacam saresehan dan pentas seni teatrikal yang di beri tajuk “ Sang Celeng Telah Mati”. Keseluruhan acaranya sendiri saya kurang tahu, tapi kemudian saya baca di Kedaulatan Rakyat liputannya. Satu hal menarik ketika tampilnya Drs. Susilo Nugroho yang dulu di TVRI Djogja dikenal sebagai den baguse Ngarso di acara populer Bangun Desa. Menurut dia bahwa manusia itu selain mempunyai bapak secara biologis, juga mempunyai bapak secara ideologis, dan dalam kontek ini tentu saja yang dia maksud adalah ideologi celeng. Saya juga tidak begitu paham bagaimana sang celeng menitiskan ideologi ke-celengan-nya itu kepada ras-ras manusia. Apakah seperti yang digambarkan Djoko Pekik dalam lukisan pertama dari Triloginya, yaitu dengan “Susu Raja Celeng”?. Padahal setahu saya susu itu tidak membawa faktor genetis. Tapi seandainya saja iya, betapa berbahayanya penyebaran ideologi itu. Anggap saja sang Raja Celeng menyusui 12 ras manusia. Lalu perdana menterinya, sentana-nya, prajuritnya dan seluruh rakyatnya dari bangsa celeng masing-masing menyusui 12 ras manusia juga. Terus berapa ras manusia yang akan terpangaruh dan ketularan ideologi ini?. Wah, jika teori ini benar, saya yakin 65.3% populasi rakyat Indonesia akan tertular paham ini. Jelas ini adalah bahaya latent yang lebih berbahaya dari komunisme. Agaknya pemerintah mesti segera membuat perangkat hukum untuk mengantisipasi penyebaran ideologi ini.

Akhirnya saya sadar bahwa sebuah lukisan ternyata bisa melahirkan penafsiran yang begitu beragam. Lalu saya ngaca, siapa sih saya ini?, kok berani-beraninya cumantaka, lancang menilai sebuah karya besar dari seorang seniman besar macam Djoko Pekik.

”Anggepmu kamu itu kritikus seni apa?”.

Tapi bagaimanapun ada aturan umum untuk sebuah karya seni yang telah dipublikasikan. Sebuah karya, apapun itu, setelah di lepas ke tangan khalayak maka menjadi hak khalayak untuk menilai, manafsirkan dan mengkritisinya. Ibaratnya sang seniman telah menjual gagasan dan ideanya, sedangkan khalayak membeli dengan apresiasi dan timbangannya. Eloknya, kadang kita tidak melihat tawar-menawar dalam transaksi macam ini.

Dan bagi saya inilah yang saya tangkap dari karya-karya Djoko Pekik. Saya menakar dan menimbang apa yang telah dia lakukan dan hasilkan. Saya coba mengerti dan mengapresiasi. Bagi saya Djoko Pekik adalah ”orang besar” yang telah mengabdikan dirinya untuk idealisme yang dia yakini. Tapi di sisi lain kebesarannya, saya melihat kerandahan hatinya. Dengan penuh kejujuran dia mengakui keterbatasannya ajan ide dan teknik melukis. Dia mengakui bahwa teknik melukisnya sendiri telah ketinggalan zaman.

” Bila orang menilai lukisan saya itu unik dan berbeda, itu bukan karena teknik melukis saya lebih maju dibanding yang lain. Akan tetapi itu karena saya telah ketinggalan dalam hal teknik dibandingkan pelukis modern lainnya ” , inilah kata-kata Djoko Pekik yang telah sumeleh, terhadap kemampuannya sendiri.

Kalau saya mesti memilih karya Djoko Pekik yang paling ”berarti”, maka saya tidak akan memilih satupun dari Trilogi puncaknya. Saya justru akan memilih karya patungnya yang berjudul ” Memanah Matahari”. Saya melihat ada kejujuran yang benar-benar manusiawi. Saya melihat harapan dari karya itu. Harapan untuk menghentikan matahari di ufuk timur. Matahari di saat pagi, di saat harapan dan kebahagiaan tumbuh.

Saat ini Djoko Pekik sudah mulya. Ibarat orang labuh , menanam, dia sekarang telah ngunduh, memanen apa yang dia perjuangkan dan usahakan. Rumah besarnya di desa Sembongan , kecamatan Kasihan, Bantul, dia sulap menjadi semacam pesanggrahan, pondokan yang begitu hijau dan asri. Setiap hari dia bercengkerama dengan binatang-binatang ternaknya ( tapi tentu saja dia tidak memelihara celeng, dia Muslim yang taat ). Dan dengan bus pribadi ( yang digambari dengan lukisan airbrush bermotif celeng ) dia kelilingi jalan-jalan di Djogja dan dikumpulkannya seniman dan anak-anak jalanan untuk diajak kerumahnya. Ya, apalagi kalau tidak diajak untuk bersama menikmati ke-mulya-annya itu. Ah, seandainya saja semua seniman seberuntung dia. Tentu saja saya iri dengan kehidupan dan pencapaian seorang Djoko Pekik. Tapi yang paling membuat saya iri ada dua hal :

Pertama, dia berkesempatan ”menikmati” zaman yang penuh kebebasan dan ”warna”. Zaman dimana semua ideologi dan aliran boleh berkembang dan bersaing. Yang kanan-liberal-agamis, yang kiri-sosalis-komunis semua tinggal pilih, mana yang sesuai dengan “kelas” dan idealisme kita. Walaupun pada akhirnya ke ikut -sertaan mereka dengan golongan “kiri” mesti dibayar dengan sangat mahal, tapi menurut saya itu sebuah harga yang pantas untuk satu kebebasan ideologis.

Kedua, dia oleh Gusti Allah diberi kanugrahan seorang perempuan re-inkarnasi wara Srikandhi , bernama CH.Tri Purwaningsih, yang dia nikahi di tahun 1970. Seorang perempuan yang benar-benar menempatkan diri sebagai “ garwa ”. Ya, garwa, sigaraning nyawa, belahan jiwa . Istri yang benar-benar bisa “mengerti”, dan mau mendampingi dalam susah maupun senang. Bahkan bisa “memahami” perjuangan dan idealisme yang kadang-kadang di mata orang lain dianggap sinthing”


Saya tahu perempuan macam itu oleh Gusti Allah “dicipta” sebagai edisi khusus dan terbatas. Saya bahkan ragu, apakah dijaman “saya” ini perempuan macam itu masih ada dan “exist”.
Tapi kadang-kadang saya merasa telah menemukan perempuan macam itu. Diakah itu..........?. Ah, seandainya saja spekulasi saya benar, maka saya tidak akan ragu untuk mengulang-ulang syair yang telah diajarkan Zarathustra :
” dihari-hari itu aku mencintai gadis-gadis timur dan kerajaan-kerajaan surga biru lainnya, yang di atasnya tidak ada awan-awan dan pikiran yang melayang-layang”



5 komentar: