Senin, 25 Oktober 2010

Tentang Sebuah Tarian

Jangan kau hentikan tarianmu, gadisku
Aku bukanlah orang iri yang datang dengan pandangan jahat
Bukan pula musuh gadis-gadis
Dan meskipun dengan air mata, kuminta kau buat tetap menari
Dan disini, hendak aku nyanyikan sebuah lagu untuk tariamu


Banyak yang bisa ditafsirkan dari sebuah tarian. Dari pemaknaan spiritualistis sampai pada pengertian yang cenderung politis atau malah bahkan libidonis. Orang-orang sufi dulu dibawah bimbingan Jalaluddin Rumi menarikan tarian dengan gerak memutar sebagai sarana pendekatan kepada Yang Eternal. Konon gerakan itu merepresentasikan gerakan alam raya dan planet-planet yang diciptakan Tuhan dalam gerak sentrifugal. Tarian bagi mereka tidak hanya sebuah gerakan kinetis yang berhenti pada tujuan akan keindahan dalam pengertian estetis saja. Bagi mereka tarian adalah ”jalan pelepasan” dimana badan wadat menyatu dalam gerak dan suara sebagai suatu spirit (nous) untuk mencapai sebuah pencerahan. Disinilah mereka memeperoleh ”kemabukan” dimana batasan antara jiwa, dan Sang Pembuat Jiwa sudah tersingkap sama sekali. Disitulah mereka melakukan ”pelepasan sandal”, mereka memasuki wilayah tersuci bagi sang jiwa. Jadi bagi mereka tarian adalah sebuah via purguvita ( proses pemurnian ) yang mereka titi untuk mencapai suatu via illuminativa ( penyatuan dalam cinta dan kearifan). Dalam mistisme Jawa mungkin bisa diterjemahkan sebagai satu ”lelaku” pengembaraan jiwa dengan tujuan (yang saya sendiri masih agak ragu buat mengatakanya), yaitu: manunggaling kawula gusti dan mangestuning rasa dalam satu naungan yang tunggal dengan menyatukan segala karagaman yang berwujud dalam satu wujud yang bahkan sudah menafikan segala wujud. ( gimana pusing kan??).

Itu dari sisi spritualitis. Dari segi politis tarian juga sering dijadikan sebagai sebuah ” penekanan legiminatif ” terhadap pengesahan sebuah tindakan yang berhubungan dengan kekuasaan. Contoh kongkretnya ya, pas peristiwa Gestapu dulu itu. Dimana para anggota Gerwani dituduh menarikan Tarian Harum Bunga. Sebuah tarian yang menggambarkan para perempuan yang menari telanjang dengan iringan lagu Genjer-genjer sambil mbawa clurit lalu ( nuwun sewu ) ”nyupiti” para jenderal dan pejabat teras TNI waktu itu. Ah, tapi jelas nggak benar pemberitaan itu. Bukannya saya mbela ya. Tapi apa ya memper, sebuah organisasi kewanitaan terkuat di Nusantara yang juga anggota Organisasi Perempuan se-Dunia dibawah pimpinan perempuan khrismatik macam Umi Sardjono dan Masyesiwi melakukan tindakan sebejat itu. Nggak mungkin tho!!, jadi kok bisa dikabarkan seperti itu, wallah itu sih akal-akallannya ..... saja ya !!! .

Dijaman embah buyut ( masksudnya jaman feodal ) dulu bahkan stratifikasi ( atau tepatnya kastanisasi ) tarian malah merupakan sebuah keniscayaan. Jadi antara yang ningrat-yang rakyat, yang pedalaman-yang pesisiran jelas mempunyai jenis tarian sendiri-sendiri. Tarian yang diklaim sebagai ”hak ”kasta tertentu bahkan di-”haramkan” untuk ditarikan oleh penghuni kasta yang lain. Dari sana kita mengenal macam gambyong, serimpi, bedaya yang merupakan stereotipe golongan ningrat. Sedangkan golongan bawah dengan segala kemarjinalannya menarikan ledek, tayub, atau ronggeng ( yang kebetulan semuanya kok sering diindentikan dengan prostitusi ”halus” yang secara kultural ”dibenarkan”). Sedangkan kaum pesisir yang kebetulan mempunyai akar agama yang kuat dan pergaulan yang lebih terbuka cenderung mengapresiasi tari yang bernuansa ”religi” macam kodrat dan gambus.

Dari pandangan libidonis?? ( itu yang paling terlihat saat ini ) itu sih jelas soal penari-penari stripis baik yang exclusive di klub-klub atau yang diumbar bebas dilapangan saat pasar malam atau konser-konser nDangdut Koplo yang ( tahu sendiri ) ngaudubilah saiton kampungannya itu ( namanya juga ndangdut kampung). Gimana tidak, wong yang mereka tampilkan itu bukanlah sebuah aselerasi gerak yang estetis tapi sekedar gerak tak beraturan ( atau memang diatur kayak gitu ) yang dipaksakan untuk menimbulkan efek erotis saja. Tapi kok ya banyak yang nonton ya,?? Jangan-jangan memang sebatas itu apresiasi seni masyarakat kita. Yang penting ... dan bisa bikin.... Jadi ya titik.titik.titik.

Sebagaimana umumnya sebuah seni pertunjukan, tarian jelas memuat dua unsur pokok yaitu penonton dan yang ditonton ( namanya juga totonan ). Rumitnya, dari
kedua unsur tersebut tidak pernah jelas dapat dibedakan mana yang subjek dan mana yang mesti disebut objek. Penonton di satu sisi bisa disebut sebagai subjek, lha wong dia yang nonton kok. Disisi lain yang ditonton juga layak merasa sebagi subjek, lha wong dia yang menarikan kok. Jadi kalau begitu siapa yang menjadi objek??. Ternyata yang menjadi objek adalah ”tari” itu sendiri. Kok bisa ??, ya, itu karena ”tari” disamping ditarikan oleh sang penari tapi disaat yang sama ”tari” juga ditonton oleh penonton.

Nah, kebetulannya itu ya saya kok pernah menjadi dua unsur itu. Dulu saya pernah jadi penari ( jelas amatir ), dulu juga pernah jadi penikmat tari ( yang ini lebih agak profesional, gimana nggak lha wong yang saya nikmati tariannya.Djeng....kok ).Namanya saja penari amatir, apa yang saya lakukan jelas tidak ada hubungannya dengan masalah honorarium maupun profesi. Semuanya just relaxation saja.
Sebagai penonton ?? nah, yang ini jelas ada sangkut-pautnya sama teman saya yang ( seperti anda tahu ) penuh kontroversi itu. Saya juga merasa mungkin sekali itu saja saya benar-benar menjadi penonton yang ”tercerahkan” betul. Ceritanya begini :

Date : Jum’at ,feb 09
Place : .,........, ……. Temanggug
Event : the anual” Kampoeng Seni”

Saya telah duduk di depan panggung. Di tengah pentas Djeng Lis sudah memulai tari solonya, “Golek Tirto Kencono’. Tarian itu menceritakan seorang gadis yang tengah menginjak remaja dengan segala pesona juvenil nya.

Kostum yang dipakai, atasan rompi hijau tua dengan sulaman keemasan dan hiasan payet berbentuk cempaka, jamang berbentuk burung merak dengan surai belakang hijau pupus, sampur sewarna dengan surainya, hijau pupus. Telinganya dihiasi sumping berbentuk makara keemasan juga dengan mata anting biru indigo. Kain nyampingan-nya batikan motif parang klitik yang dipadu dengan prada emas tanpa wiron. Sederhana dan tentu saja tidak begitu mencolok. Yang agak over acting adalah tatanan rambutnya yang ditekuk keatas sehingga tengkuknya tersingkap ( ini salah satu yang bikin saya “terprovokasi“ ). Riasannya seperti biasa kalem saja, hanya dengan eye shadow disekitar mata, pemulas pada alis dan surai sinomnya, tanpa perona wajah tanpa maskara. Secara keseluruhan penampilannya saat itu “lumayan” charming juga .

Dari awal tarianya sudah membius saya. Gerakannya mengalun dalam iringan musik gaya Solo yang lembut tapi penuh ekspresi. Saat itu saya tidak melihatnya sebagai sosok yang saya kenal, tidak ada sosok narsis dan euthenis lagi. Yang saya lihat ”cuma” sesosok manusia, sesosok perempuan, yang merasa sekaligus dirasa, yang mendamba sekaligus didamba. Dan walaupun gerakannya secara keseluruhan masih belum mencapai tingkatan setaraf Rahma Putri atau Ririh dari Sanggar Arena Langen Budaya Surakarta itu tapi dalam penghayatan, semangat dan roso bolehlah disandingkan.

Dalam beberapa kali kiprah pandangan saya sudah tersublimkan. Saat itu hilang sudah sosok Listyar Wardani dengan Golek Tirto Kencono-nya yang tertinggal adalah Candralekha dengan Bharata Natyam-nya ( Baru belakangan saya ketahui jika Candralekha sendiri sudah menjadi aktifis feminis dan meninggalkan tarian-tarian Bharata Natyam yang dia pikir terlalu menggambarkan nayika, kepatuhan mutlak terhadap suami. Metamorfosis selanjutnya dia mulai menggali kehidupan nyata dan dia gubah menjadi tarian kontemporer yang dahsyat sehingga munculah seri-seri Lilavati, Yantra, Mahakali dan Sharira. Ujung-ujungnya, walaupun dikarunia wajah indo-arya yang adauhai cantiknya itu dia memilih untuk tidak menikah, ah semoga saja Djeng Lis tidak ketularan ).

Ada yang lain yang saya lihat darinya waktu itu. Saya melihat dia tersenyum tapi saya tak mengenali senyuman itu, sebuah senyuman dari dimensi lain. Tapi dari mana?? Reflek logika saya bilang: ” dari dunia sana dimana musik, lagu dan gerak menjadi penghuninya, sebuah negeri yang dipagari dengan inspirasi dan dihiasi dengan apresiasi, sebuah negeri seni”. Bagi saya waktu itu dia tidak lagi sekedar sedang menari tapi dia tengah melakukan sebuah perjalanan, sebuah pencarian makna estetis. Dan disaat yang sama hilang sudah garis batas antara saya sebagai ”penonton” dan dia sebagai yang ”ditonton”. Semuanya telah menyatu sebagi unsur yang tak terpisah, gerakannya sudah menjadi gerakan saya, nafas dan semangat nya sudah seiring dengan nafas dan semangat saya. Kami telah menyatu dalam dalam gerak, lagu dan musik yang sama hanya dengan ruang yang berbeda. Dia dalam dimensi ruang dan waktu yang nyata sedang saya terhenpas dalam dimensi khayali dan imaji. Intinya tariannya waktu itu tidak sekedar menghadirkan hiburan tapi juga menyuguhkan suatu ” swasana ”, ada unsur beyond didalam nya.

Sebenarnya konsep gerak tarian itu cukup sederhanana. Rinciannya hanya pada gerakan seorang gadis remaja yang lagi senang-senangnya meng –adi salira alias merias diri. Ini masuk tarian jawa klasik, makanya percuma kalau anda mencari gerakan-gerakan rancak yang atraktif. Ekspresi gerak lebih ditunjukan oleh gerak sampurnya. Ya memang begitulah konsep tarian klasik Jawa, emosi mesti diolah dalam ekspresi yang tenang dan wajar, dengan bahasa misteri mungkin. Sama seprti budaya Jawa sendiri yang selalu mementingkan pengendalian rasa demi sesuatu yang sering kami sebut sebgai ”keharmonisan”( ini sering dikritik oleh orang-oprang yang nggak mengenal budaya Jawa sebagai ”kemunafikan”, tapi ya gimana lagi wong itu sudah jadi budaya kok ).

Gerak dalam tarian Jawa adalah layaknya konsep ”ornamen” dalam pandangan Claire Holt saat menilai arsitektur klasik Jawa ( termasuk Borobudur dan Prambanan ), dimana ornamen tidak mungkin ”mengungguli” sebuah bangunan sebagi suatu keutuhan. Jadi gerak dalam tarian Jawa itu ya sekedar ornamen saja dari bangunan tari yang berupa kesatuan ide, musik dan syair lagu yang didendangkan para pesinden. Nggak menarik memang bagi yang nggak biasa menikmati tarian jawa klasik.Tapi jangan tanya kalau dia lagi pacak gulu, wis jangankan hati saya, bahkan Index Harga Saham Gabungan pun bisa jatuh berantakan.

Saya sudah nggak ingat lagi gimana akhir dari pentas itu, lha wong saya terlanjur kesengsem. Saya malah jadi dibingungkan dengan kredo seperti ini: ” yang benar itu tarian yang biasa akan menjadi istimewa kalau ditarikan oleh orang yang istimewa atau seorang yang biasa akan menjadi begitu istimewa bila menarikan sebuah tarian yang istimewa”.

Sehabis pentas saya gandeng dia kebelakang dan saya ajak membahas banyak hal ( sudah 3 bulan nggak berdebat kangen juga ), tentang tariannya waktu itu, tentang Chandralekha, tentang kelompok ”feminisnya”, tentang hari depan ( kalau ada ), tentang film, tentang lukisan dan tentang rencana buat...... Tapi sebagai mana kredo yang saya belum pecahkan semua yang kami bahas kok ya belum ada yang kami sepakti ( memang dalam banyak hal kami adalah oposisi, kecuali dalam soal seni dan buku dimana kami lebih sering berkoalisi ).

Pas terakhir kali sebelum saya berangkat balik ke Jakarta dia bilang begini:

” kapan-kapan aku ikut ke Jakarta yaa!!, mau lihat itu wayang orang Bharata (- tempatnya ada di bilangan Senen, dekat Kwitang dimana saya sering nguber-nguber buku ) yang katamu sangat dahsyat itu. Aku mau lihat apa memang mereka bisa disejajarkan sama wayang orang Sriwedari Solo, atau jangan-jangan cuma parikan kamu saja?? ”


Today : Jum’at ,
Place : .........,..........,..... Jakarta
Event : No event

Sore ini hujan pertama setelah 3 hari cerah. Di timur pelangi pertama tahun ini kok ya iseng muncul juga ( terus terang ini bisa semakin mendramatisir suasana ).
Ah sebentar lagi Februari dan saya mesti pulang lagi. Dikampung akan ada pentas seni lagi, akan ada pawai budaya lagi, dan semoga saja masih ada tarian itu.

Saya putar walkman saya dan coba sedikit resapi bait kedua lagunya Eva Casiddy:

--Somewhwere over the rainbow
Skies are blue
And the dreams
That you dare to dream
Really do come true--




rewrite, 20 Sept 2010

1 komentar: